Jumat, 20 Desember 2013

Mutu tes, Motivasi, Sikap

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Menghadapi pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi dewasa ini serta tuntutan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan global, telah menempatkan sektor pendidikan pada posisi yang sangat menentukan. Berbicara mengenai sektor pendidikan akan melibatkan banyak unsur seperti guru,siswa, pemerintah,masyarakat dan faktor penunjang lainnya.Dari sekian banyak faktor yang berperan serta dalam kemajuan pendidikan, semuanya saling kait mengkait. Akan tetapi faktor guru merupakan sesuatu yang bisa dikatakan sangat penting sekali. Guru adalah seorang sutradara yang dapat mengarahkan situasi dan kondisi yang bagaimanapun untuk mencapai tujuan.
[1] Proses pembelajaran siswa di sekolah diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.
[2] Berbicara mengenai mutu pendidikan yang melahirkan sumber daya manusia, maka prestasi siswa di sekolah dapat dijadikan sebagai cermin mutu pendidikan tersebut. Laporan Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta menunjukan bahwa mutu mata pelajaran Bahasa Inggris masih jauh dari cukup yaitu sebesar 5.14 untuk seluruh SLTP di Jakarta.

[3]Dengan adanya Undang-Undang sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS) berarti ada landasan yang kuat sebagai tempat berpijak bagi semua faktor yang terlibat dalam kemajuan pendidikan di negara ini. Semua yang terlibat di dalam lingkaran pendidikan diharapkan mempunyai kemampuan teknis dalam membuat rencana, melaksanakan, maupun mengevaluasi program. Guru sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran sebaiknya mempunyai kemampuan yang baik dalam melaksanakan tugasnya.
Tugas pokok dan fungsi guru adalah membuat rencana pembelajaran, melaksanakan program, melaksanakan evaluasi, menganalisis hasil evaluasi dan melakukan tindak lanjut. Pada akhir proses pembelajaran dilakukan penilaian yaitu serangkaian kegiatan untuk memperoleh informasi yang bermakna dalam mengambil keputusan.

[4] Penilaian di sekolah dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan informasi tentang hasil belajar atau tingkat pencapaian siswa tentang materi yang sudah disampaikan guru.
Untuk memperoleh data hasil belajar siswa, maka dilaksanakan pengukuran dengan menggunakan alat berupa tes. Data yang diperoleh diolah sehingga akan mendapatkan tafsiran gambaran prestasi belajar siswa secara menyeluruh dan komprehensif. Data tersebut akan dijadikan acuan untuk mengambil keputusan apakah siswa sudah menguasai materi yang disampaikan guru atau belum. Penilaian kegiatan belajar mangajar perlu dilakukan dengan sebaik-baiknya, yaitu dengan menggunakan tes yang berkualitas baik dan standar. Untuk melaksanakan hal tersebut para guru perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam membuat soa-soal yang sesuai dengan kaidah penulisan soal. Soal dikatakan baik apabila (1) menetapkan tujuan tes,(2) analisis kurikulum(3) analisis buku pelajaran (4) menyususn kisi-kisi (5) memilih indikator (6) menulis soal (7) uji coba (8) revisi (9) merakit soal.

[5] Dalam sebuah seminar penulisan tes prestasi belajar di pusat pengujian tahun 1997, Jim Tognolini seorang ahli penyusunan tes dari New South Wales University , mengatakan bahwa 80 % soal yang dibuat guru mematikan daya kreativitas siswa dan tidak mengukur dengan cermat kemampuan yang hendak diukur. Hal ini terjadi karena guru tidak serius dalam merencanakan dan membuat tes. Sebagaimana diketahui , tinggi rendahnya tingkat pencapaian siswa dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam melaksanakan tugas. Banyak penelitian yang mencoba mengungkap tingkat keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran akan tetapi sangat sedikit yang menyinggung tentang kualitas soal yang dibuat guru.
Keberhasilan pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, diantaranya mengadakan pelatihan, memperbaharui kurikulum, melengkapi sarana prasarana dan banyak usaha lainnya. Dalam SISDIKNAS jika dipelajari dengan seksama ada unsur yang sangat penting yaitu tegaknya eksistensi manusia Indonesia di tengah bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.[6] Untuk tujuan itulah sekolah sebagai lembaga formal yang mencetak sumber daya manusia haruslah lebih bertanggungjawab dalam proses peningkatan mutu pendidikan.
Sejalan dengan perubahan kurikulum, penerapan bentuk soal pilihan ganda lebih mendominasi bentuk soal dalam membuat alat ukur terutama sejak adanya standar ujian akhir tingkat nasional. Asumsi sementara masih banyak guru yang belum mampu menyusun tes sesuai dengan kaidah yang berlaku yaitu kaidah cara pembuatan tes yang standar. Pengetahuan tentang tes yang standar, khususnya dalam menyusun tes prestasi belajar yang baik merupakan komponen yang harus dikuasai oleh setiap tenaga pendidik atau guru. Hal ini karena informasi yang diperoleh dari hasil penilaian dan pengujian sangat berguna untuk melihat keberhasilan program yang dilaksanakan di berbagai jenjang pendidikan.
Kesiapan guru mengajar diperlihatkan dengan kemampuan mereka menyusun soal dalam tes prestasi belajar baik soal untuk ulangan harian maupun ulangan akhir semester dan ujian akhir pendidikan tingkat SLTP. Kenyataan yang berlangsung selama ini adalah sekolah lebih suka mengadakan ulangan akhir semester secara bersama artinya sanggar menghimpun hanya beberapa orang guru saja pada setiap mata pelajaran untuk menyusun tes. Hal ini berdampak pada tidak terbiasanya sebagian besar guru untuk mempersiapkan tes yang baik pada ulangan harian. Disamping itu ketidakmampuan guru membuat tes yang baik bisa juga disebabkan tidak adanya motivasi guru tersebut karena tidak ada pengawasan yang ketat dari pihak yang berkompeten untuk mengawasi kinerja guru. Kenyataan di lapangan masih kurangnya pemerhati pendidikan untuk mengkaji atau memperhatikan pentingnya mutu tes buatan guru dalam rangka menjaring informasi yang akurat untuk mengambil keputusan baik secara lokal, rigional ataupun secara nasional.

B. Identifikasi Masalah
Mengajar di kelas tidak cukup hanya memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan yang akan diajarkan semata, tetapi juga perlu menguasai metodologi pengajaran, menyusun rencana, pandai memberi motivasi siswa, mempunyai motivasi untuk berhasil serta tepat dalam memilih alat ukur dan mampu membuat alat ukur yang akurat.
Setiap guru memerlukan keterampilan-keterampilan tersebut di atas dan sekaligus merupakan tantangan baginya bila ingin maksimal dalam menjalankan tugas. Akan tetapi dari sekian banyak persoalan tersebut di atas ada satu hal yang sangat memerlukan perhatian lebih oleh pengelola pendidikan yaitu evaluasi. Melalui evaluasi yang baik akan didapat informasi yang akurat tentang kemajuan belajar siswa serta melihat ketercapaian tujuan pembelajaran.
Tes yang dipandang paling objektif dalam mengukur hasil belajar adalah tes pilihan ganda. Popham mengatakan bahwa keunggulan tes pilihan ganda menuntut kecermatan dan kehati-hatian siswa dalam memilih alternatif jawaban dari beberapa jawaban yang memiliki perbedaan kebenaran sangat sedikit. Di Amerika Serikat dan negara maju lainnya,tes bentuk pilihan ganda telah mendominasi selama beberapa dekade sebagai tes untuk mengukur prestasi belajar.
[7] Ada beberapa keunggulan yang dimiliki oleh tes bentuk ini, anatara lain sifatnya komprehensif, pemberian skor mudah, cepat dan objektif tinggi, karena menggunakan lembar jawaban menjadi efisien dan hemat, kualitas butir dapat dianalisis secara empirik dan umumnya memiliki reliabilitas memuaskan.
[8] Akan tetapi dalam pelaksanaan ulangan harian guru juga dituntut untuk bisa membuat tes bentuk uraian secara baik.
Sesungguhnya banyak permasalahan yang berkaitan dengan evaluasi, seperti (1) bagaimana kemampuan guru menyusun tes prestasi belajar,(2) apakah guru mampu menyusun tes yang baik dan standar, (3) apakah sikap terhadap profesi guru mereka positif, (4) Bagaimana pengetahuan guru tentang tes yang standar,(5) apakah ada hubungan antara sikap terhadap profesi guru dengan kemampuan mereka menyusun tes yang bermutu, (6) bagaimana motvasi guru untuk berprestasi maksimal, (7) apakah ada hubungan anatara motivasi berprestasi guru dengan mutu tes yang mereka buat, (8) bagaimana motivasi guru dalam menjalankan tugas, (9) apakah ada fasilitas yang dapat mengembangkan pengetahuan guru, (10) bagaimana penguasaan guru terhadap mata pelajaran (11) apakah ada hubungan antara sikap terhadap profesi guru dan motivasi berprestasi mereka terhadap mutu tes yang mereka buat, (12) seberapa besar kesempatan guru mengembangkan ilmu mereka, (13) bagaimana siskap dan tanggungjawab mereka terhadap profesi keguruan. Semua masalah ini adalah persoalan yang perlu dicari jawabannya dan sangat berpengaruh pada mutu tes yang mereka buat.
Seluruh permasalahan di atas tidak mungkin dapat diteliti sekaligus karena akan berhadapan dengan berbagai kesulitan terutama waktu dan biaya. Dengan pertimbangan hal tersebut maka dipilih sikap terhadap profesi guru serta motivasi berprestasi guru dinyatakan sebagai variabel bebas sedangkan mutu tes yang dihasilkan sebagai variabel terikat.

C. Pembatasan Masalah
Banyak variabel yang dapat mempengaruhi kualitas tes yang dibuat guru terutama tes bentuk pilihan ganda dan uraian. Oleh karena itu dalam penelitian ini variabel yang akan diteliti hanya difokuskan pada hubungan variabel sikap terhadap profesi dan motivasi berprestasi guru dengan mutu tes yang dibuat guru. Ketiga variabel ini dapat diteliti pada semua guru di seluruh Indonesia akan tetapi karena beberapa keterbatasan penelitian ini hanya dilakukan pada guru Bahasa Inggris tingkat SLTP di Jakarta. Begitu banyak pertanyaan yang menghendaki jawaban. Namun untuk keperluan penelitian ini ruang lingkup masalah perlu dibatasi. Batasannya adalah :
1. Mutu Tes buatan guru.
2. Sikap terhadap profesi .
3. Motivasi berprestasi.

D. Perumusan Masalah.
Dari uraian dalam latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas dapat dirumuskan beberapa masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah terdapat hubungan antara sikap terhadap profesi guru dengan mutu tes buatan guru?
2. Apakah terdapat hubungan antara motivasi berprestasi guru dengan mutu tes buatan guru?
3. Apakah terdapat hubungan antara sikap terhadap profesi guru dan motivasi berprestasi secara bersama dengan mutu tes buatan guru?

E. Manfaat Menelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas guru dalam melaksanakan tugas mereka. Untuk para guru, khususnya guru Bahasa Inggris SLTP, penelitian ini diharapkan dapat membuka tabir kegelapan yang selama ini kurang diperhitungkan dan digunakan sebagai bahan masukan untuk introspeksi diri tentang pelaksanaan tugas selama ini terutama tugas guru yang berkaitan dengan melaksanakan evaluasi.Untuk pemerintah daerah dimana penelitian ini berlangsung dapat dijadikan masukan dalam membuat kebijakan ke depan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya terutama bagi dinas pendidikan dasar. Untuk para peneliti yang berminat pada masalah yang sama, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan guna penelitian lebih lanjut serta akan memperoleh hasil yang dapat dipercaya serta diharapakan sangat berguna bagi pemerhati pendidikan agar lebih tertarik meneliti pengetahuan dan kecakapan guru dalam menyusun tes prestasi belajar. .
[1] John Goodlad.1992 Behind The Doors. New York : The Free Press, h. 65

[2] Anonim. 1999. Undang-undang sistem Pendidikan Nasional Dan Peraturan Pelaksanaannya. Jakarta: Sinar Grafika,h.4 1
[3] Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta.2002 Hasil Ujian Akhir NasionalSLTP di DKI Jakarta.
[4] Suharsimi Arikunto.1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan .Jakarta: Bumi Aksara.h.3.

5 Suke Silverius. 1991.Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik .Jakarta: PT: Gramedia. h.13.


[6] Soebagio Atmodiwiro. 2000. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta :PT Ardadizya. 2000. h. 29.

[7] W.James Popham.1995. Classroom Assessment, What Teachers Need to Know Needham Height Allyn and Bacon. h.105.
[8] Saifudin Azwar. 2000. Tes Prestasi , Fungsi dan Penegmbangan Pengukuran Prestasi Belajar .Yogyakarta: Pustaka Pelajar. h.75.

1 komentar: