Rabu, 19 Agustus 2015

Empat Kompertensi LPK


Ada Empat  ( 4 )  Kompetensi Pengelola LKP

1. Kompetensi Kepribadian
2. Kompetensi Sosial
3. Kompetensi Manajerial
4. Kompetensi Kewirausahaan

1. Kompetensi Kepribadian
Adalah kompetensi pengelola dalam sikap/perilaku/karakter atau ciri khas fisik, mental, spiritual dan sosial pribadi pengelola LKP.
Kepribadian
  • ·      Kepribadian positif
  • ·      Kepribadian negatif
Kompetensi kepribadian yang harus dimiliki oleh pengelola LKP adalah kepribadian positif, ciri-cirinya adalah
a. Early Bird
·      Antisipatif
·      Proaktif
·      Berpikir nanti bagaimana bukan bagaimana nanti dengan menjalankan sesuatu dengan terencana.
b. Jadi Loko
·      Memberi tauladan
·      Memimpin
·      Selalu punya visi, value, vitality
·      Inisiatif
·      Penyebar semangat
·      Memberi manfaat
·      Memberi inspirasi
c. Powerfull
·      Memiliki potensi diri yang dapat dikembangkan
·      Memiliki potensi lingkungan
·      Memiliki target
·      Memiliki strategi
·      Selalu berbuat/bertindak (action)
d. Komit
·      Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas dan fungsi
·      Memiliki keinginan kuat dalam pengembangan diri
·      Memiliki pengendalian diri dalam menghadapi masalah pekerjaan
·      Memiliki minat terhadap jabatan sebagai pemimpin lembaga pendidikan
e. Yes I Can
Keyakinan, pikiran, kata-kata, tindakan, nilai dan kebiasaan dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik

f. Ikhlas
·      Bersih, murni
·      Tanpa pamrih
·      Semangat pengabdian
·      Keperpanggilan
·      Amanah
·      Semata-mata ibadah.

Orang yang memiliki kepribadian positif tercermin dalam
·      Sikap positif (selalu optimis)
·      Wajah ceria
·      Matanya bersinar
·      Tersenyum
·      Antusias (penuh semangat)
·      Bahasa tubuh dan kata
·      Spiritual dan sosialnya seimbang

Sementara orang yang memiliki kepribadian negatif tercermin dalam
·      Sikap negatif (pesimis)
·      Selalu mengeluh
·      Kehilangan energi (loyo)
·      Terlihat lelah
·      Perasaan tertekan
·      Stress
Manfaat Kepribadian Positif
·      Sikapnya yang menarik
·      Membuat yang cantik/ganteng menjadi lebih cantik/ganteng
·      Memantulkan ciri khas yang lazimnya tidak nampak
·      Memantulkan cahaya dan daya tarik yang langgeng.

2. Kompetensi Sosial
Adalah kompetensi pengelola LKP yang berkaitan dengan masalah sosial lingkungan intern dan ekstern, teknik komunikasi dan pengembangan jaringan kemitraan.

Beberapa aspek yang dinilai dalam kompetensi sosial:
·      Ketaatan dalam menjalankan ajaran agama
·      Tanggung jawab (sanggup menyelesaikan tugas sesuai ketentuan)
·      Kejujuran (menyampaikan sesuatu apa adanya)
·      Kedisiplinan (kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku)
·      Keteladanan ( menjadi contoh atau rujukan dalam sikap dan perilaku bagi orang lain)
·      Etos kerja (komitmen dan semangat dalam melaksanakan tugas)
·      Inovasi dan keativitas (kemampuan dan kemauan untuk mengadakan pembaharuan melalui olah pikirnya)
·      Kemampuan beradaptasi dengan masyarakat di sekeliling lembaga
·      Kemampuan berkomunikasi (dapat menyampaikan ide-ide dengan bahasa yang baik dan dapat dipahami oleh sasaran)
·      Kemampuan kerjasama dalam pekerjaan sesama pengelola
·      Keberhasilan melakukan kerjasama dengan stakeholder
·      Kemampuan membantu masyarakat di sekitar lembaga
·      Memiliki kepedulian terhadap masalah sosial
·      Berpartisipasi dalam kegiatan sosial
·      Suka menolong sesama makhluk Tuhan

3. Kompetensi Manajerial
adalah kompetensi pengelola LKP dalam menjalankan fungsi manajemen.

Fungsi manajemen
·      Planning: merencanakan program kursus dan pelatihan
·      Organizing: Mengorganisasikan program kursus dan pelatihan
·      Actuating: melaksanakan program kursus dan pelatihan
·      Controlling: mengevaluasi program kursus dan pelatihan

PLANNING

4 tingkat kemampuan dasar dalam kegiatan perencanaan

a. Insight
Kemampuan untuk menghimpun fakta dengan jalan mengadakan penyelidikan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang direncanakan

b. Forsight
Kemampuan untuk memproyeksikan atau menggambarkan cara yang akan ditempuh, memperkirakan keadaan yang mungkin timbul sebagai akibat dari kegiatan yang dilakukan.

c. Eksploratif
Kemampuan untuk melihat segala sesuatu secara keseluruhan sehingga diperoleh gambaran secara integral dari kondisi yang ada.

d. Doorsight
Kemampuan untuk mengetahui segala cara yang dapat menyamarkan pandangan sehingga memungkinkan untuk dapat mengambil keputusan

4 Tahap Dasar Perencanaan

·      Menetapkan visi, misi, tujuan
·      Menganalisa keadaan saat ini dari berbagai segi, ekonomi, politik, budaya dan sosial masyarakat
·      Menganalisa kekuatan (strenght), kelemahan (weakness), kesempatan/peluang (opportunity) dan 
     ancaman (threatment) lembaga kursus dan pelatihan yang dikelola. Dikenal dengan analisa 
     SWOT.
·      Menyusun rencana pengelolaan kursus dan pelatihan baik perencanaan strategis maupun teknis 
     operasional.


ORGANIZING
merupakan kegiatan menggabungkan seluruh potensi yang ada di seluruh bagian dalam suatu kelompok orang/badan/organisasi untuk bekerja bersama-sama guna mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama.
Tahapan
·      Menyusun struktur organisasi dari mulai level atas sampai level bawah.
·      Menempatkan orang-orang yang tepat ke dalam struktur organisasi
·      Menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif untuk mewujudkan proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik.


ACTUATING
Ada 10 Kegiatan actuating
·     Menerapkan strategi pemasaran yang tepat dalam memperkenalkan program kursus dan pelatihan
·      Mengelola pengembangan dan implementasi kurikulum sesuai dengan jenis kursus dan pelatihan
·      Mengelola peserta didik meliputi penerimaan, penempatan, pembelajaran, pemantauan, penilaian
     dan penelusuran
·      Mengelola keuangan sesuai dengan prinsip transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas
·      Mengelola sarana dan prasarana LKP dari mulai perencanaan, pengadaan, pencatatan, 
     pemeliharaan, dan pemanfaatan secara optimal
·      Mengelola administrasi LKP dalam mendukung kelancaran program dan kelengkapan dokumen
·      Mengelola sistem teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dalam mendukung manajemen 
     lembaga
·      Mengelola layanan kegiatan ekstra program dalam mendukung kegiatan pembelajaran di dalam 
     dan luar LKP
·      Mengelola hubungan dan kerjasama dengan pihak terkait dalam rangka pencarian dukungan, ide, 
     sumber pembelajaran dan pembiayaan
·      Mengelola sumber daya manusia di LKP


CONTROLLING

4 tahapan controlling
·      Tahap 1 merencanakan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi program kegiatan kursus dan 
     pelatihan
·      Tahap 2 melaksanakan pengawasan, pemantauan, evaluasi dan pelaporan hasil program
·      Tahap 3 menindaklanjuti hasil evaluasi untuk perbaikan program
·      Tahap 4 melaksanakan penelusuran lulusan untuk memperoleh umpan balik dalam upaya 
      meningkatkan mutu program

4. Kompetensi Kewirausahaan
     adalah kompetensi pengelola LKP dalam menjalankan usaha mandiri
Pilar Wirausaha
1. Memanfaatkan peluang
2. Mengantisipasi resiko
3. Mengembangkan program
4. Pencitraan

4 Konsep Wirausaha
1. Fokus
2. Flexible
3. Fast
4. Friendly

Pencitraan bagi LKP sangat penting karena
·      Dapat merangsang penjualan produk
·      Membangun nama baik
·      Mempengaruhi investor
·      Mendapatkan posisi dalam persaingan
Citra LKP ditentukan oleh
·      Bentuk organisasi
·      Pengurus
·      Nilai/norma
·      Tujuan
Citra LKP dipengaruhi oleh
·      Personal
·      Manajemen
·      Produk/program yang diselenggarakan
·      Networking
Faktor pembentuk citra
·      Kesan psikologis
·      Pengalaman
·      Success story lulusan
Pengukuran citra LKP
·      Kepercayaan di masyarakat
·      Manfaat yang dirasakan oleh masyarakat
·      Kerjasama dengan semua pihak
·      Kesadaran dari masyarakat
Bagaimana membangun citra LKP?
·      Visi-Misi
·      Publikasi yang tepat
·      Budaya kerja yang positif
·      Mobilitas SDM ke arah yang lebih baik
·      Mengabdi kepada masyarakat
·      Menebar manfaat nyata di masyarakat
·      Mengikuti ajang kompetensi
Tahapan komunikasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI)
·      Memperkenalkan diri
·      Menyesuaikan program kursus dan pelatihan dengan kebutuhan DUDI
·      Menyiapkan program
·      Menyiapkan tenaga pendidik dan kependidikan
·      Menyiapkan fasilitas
          Artikel empat kompetensi pengelola LKP merupakan ringkasan materi Bimtek Uji Kompetensi Pengelola LKP yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang pada tanggal 17-18 Maret 2014 di Hotel Hegarmanah Sumedang. 

A. Aspek Kinerja Pemasaran.
    1. Peserta Didik
  1. Penjaringan/rekrutmen peserta didik dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan membuat dan menyebarkan brosur/leaflet, stiker, poster/pamphlet, spanduk, iklan di Koran, radio/tv, iklan di web-site.  Isi media rekrutmen minimal tentang program yang akan diselenggarakan, jadwal rekrutmen, dan formulir pendaftaran. Pastikan bahwa kegiatan rekrutmen dibuatkan dokumen prosedur operasional baku (POB) atau Standard Operasional Procedure nya.
  2. Penyaringan atau seleksi dilakukan melalui kajian jati diri peserta didik, tes tertulis, tes praktek, wawancara, tes kesehatan, dan tes awal isi kursus. Materi tes berikut prosedurnya (minimal mencakup cara tes, syarat kelulusan untuk diterima, dan cara pengelompokkan peserta didik) tercatat dalam dokumen.
  3. Pencatatan data statistic peserta didik yang masuk mengikuti kursus disajikan dalam buku induk, dan lembar/papan rekapitulasi bulanan, tahunan atau per program. Data yang dicatatkan adalah data nyata dan otentik, dan konsisten/sinkron antara yang ada pada buku induk dengan yang ada pada lembar/papan rekapitulasi.
  4. Pencatatan data statistic peserta didik sesuai capaian dan kapasitas pelayanan pendidikan yang disajikan. Dalam konteks ini LKP perlu memperhitungkan target layanan dengan kekuatan personal dan daya tampung sarpras yang dimiliki. Misalnya : LKP Mosya memiliki dua kelas dan 30 unit computer (setiap kelas memuat 15 komputer). Dalam sehari tiap ruangan digunakan selama enam kali 120 menit. Berarti kapasitasnya adalah 6 x 2 x 15 = 180 org/hari. Angka kapasitas ini dapat dijadikan target oleh pengelola LKP tersebut. Pada kenyataannya ruangan tersebut hanya digunakan oleh 12 org pd setiap sessinya, sehingga diperoleh daya guna ruangan = 6 x 2 x 12 = 144 org/hari. Dengan demikian statistiknya adalah 144/180 = menurun.  Data statistic ini dihitung tiap tahun atau tiap program. Sehingga untuk menentukan kecenderungannya menurun, konstan, atau meningkat perlu membandingkan data dua atau tiga tahun atau program.
  5. Pencatatan data statistic kelulusan peserta didik tiap program atau tahun disajikan langsung pada buku induk atau buku tersendiri dan pada lembar/papan rekapitulasi lulusan.
  6. Pencatatan data statistic peserta didik yang sukses bekerja di sector usaha/industry dan berusaha mandiri (wiraswasta) disajikan dalam buku tersendiri (minimal memuat nama/nomor telepon peserta didik, nama/alamat/nomor telepon tempat kerja, jumlah gaji/honor/penghasilan per bulan) dan pada papan/lembar rekapitulasi. Dengan pencatatn ini LKP dan masyarakat dapat melihat persentase keberhasilan peserta didik setelah kursus di LKP yang bersangkutan.
  7. g. Pencatatan atau pendokumentasian (tulisan atau film) tentang testimoni   kepuasan dan penghargaan peserta didik  terhadap LKP. Isi testimoni minimal tentang kepuasan peserta didik terhadap proses pembelajaran, kinerja pendidik dan tenaga kependidikan, kelengkapan sarana prasarana, pembiayaan, proses penilaian, dan pengelolaan secara menyeluruh. (saat ini dipandu melalui angket)

2.  Kemitraan/Kerjasama
  1. Pencatatan data dan penyediaan dokumen kerjasama dalam kegiatan rekrutmen, permagangan, penempatan atau lainnya. Data yang didokumentasikan paling tidak mencakup nama lembaga/perorangan mitra, kegiatan yang dikerjasamakan gengan LKP, daftar peserta didik yang dikirim oleh mitra, daftar lulusan LKP yang diterima oleh mitra, berita acara kerjasama, surat MOU atau sejenisnya.
  2. b. Pencatatan atau pendokumentasian (tulisan atau film) tentang testimoni   kepuasan dan penghargaan para mitra (kalangan dunia usaha atau dunia industry, atau lainnya)  terhadap kerjasama dengan LKP. Isi testimoni minimal tentang kepuasan mitra terhadap kesesuaian skill lulusan dengan kebutuhan mitra, professional attitude lulusan LKP, kerjasama program magang, jejaring kerja dan penempatan kerja (saat ini dipandu melalui angket).

3. Pengelolaan/Pelayanan Alumni
  1. Pembentukan wadah alumni, pencatatan kegiatan alumni, dan data kegiatan pemdampingan LKP terhadap alumni (misalnya pembinaan karier, penerbitan majalah).
  2. Pencatatan data alumni yang disalurkan/ditempatkan di tempat kerja mitra LKP. Data tersebut mencakup nama alumni, tanggal penyaluran, tempat/alamat kerja, surat/bukti dasar penyaluran, dan besar gaji tiap bulan. Lengkapi pencatatan ini dengan berita acara penempatan.
  3. Pencatatan data alumni yang bekerja secara mandiri (berwiraswasta). Data tersebut mencakup nama alumni, tanggal mulai berwiraswasta, tempat/alamat wiraswasta, dan perkiraan penghasilan per bulan.
  4. Pencatatan atau pendokumentasian (tulisan atau film) tentang testimoni   kepuasan dan penghargaan alumni terhadap LKP dalam melayani alumni. Data testimoni mencakup sistem pelayanan kursus, kesesuaian materi kursus dengan dunia pekerjaan, kemudahan dalam mencari pekerjaan, pengakuan tempat kerja terhadap kinerja lulusan, adanya program magang, adanya jaringan penempatan kerja yang dimiliki LKP, adanya sistem informasi yang mudah diakses, dan adanya layanan paska program terhadap alumni.

4.  Penghargaan yang diterima Lembaga atau Pendidik dan Tenaga Kependidikan
  1. Pencatatan dan pendokumentasian tentang akreditasi BAN-PNF.  Bagi LKP yang baru mengusulkan atau dalam proses akreditasi, data yang perlu ada adalah berkas pengusulan/permohonan akreditasi, borang akreditasi yang telah terisi, berita acara akreditasi atau arsip surat tugas assessor, foto-foto kegiatan akreditasi. Sedangkan LKP yang telah mendapatkan SK/Sertifikat akreditasi cukup mendokumentasikannya.
  2. Pencatatan dan pendokumentasian data prestasi lembaga. LKP perlu menyediakan buku catatan prestasi/penghargaan terhadap LKP yang bersangkutan, kemudian bukti – buktinya berupa SK, Sertifikat/Piagam didokumentasikan secara berurut sesuai catatan yang ada.
  3. Pencatatan dan pendokumentasian data prestasi pendidik atau tenaga kependidikan lembaga. LKP perlu menyediakan buku catatan prestasi/penghargaan yang diterima/dimiliki oleh pendidik atau tenaga kependidikannya, kemudian bukti – buktinya berupa SK, Sertifikat/Piagam didokumentasikan secara berurut sesuai catatan yang ada.
5. Program Komunikasi Pemasaran
Pencatatan dan pendokumentasian kegiatan komunikasi pemasaran yang telah dan akan dilakukan oleh LKP.  Sebagai lembaga “bisnis jasa pendidikan” LKP patut memasarkan program-program layanannya ke masyarakat luas, baik melalui media cetak maupun elektronik. Kegiatan ini perlu diprogramkan dan dijadwalkan secara khusus, serta segala bukti perancangan, kontrak/kerjasama, bukti pembayaran, foto-foto kegiatan pemasaran, kliping koran pemasaran program LKP, CD iklan, brosur, spanduk, naskah iklan, dan sebagainya perlu dicatat dan didokumentasikan secara apik sebagai wujud kinerja LKP.

6. Program Aksi (Tanggungjawab) Sosial
Pencatatan dan pendokumentasian pelaksanaan kegiatan aksi (tanggungjawab) sosial atau Coorporate Social Responsibility - CSR  sebagai salah satu cara pemasaran mutlak dilakukan oleh LKP. Data yang perlu ada tentang CSR ini adalah catatan program/desain, alokasi anggaran, foto-foto/film, dan testimoni kepuasan masyarakat sekitar LKP atau lokasi CSR yang mencakup kebermanfaatan LKP bagi mereka, keseringan LKP menyelenggarakan kursus gratis bagimereka, partisipasi LKP terhadap pembangunan masyarakat dan lingkungan, keseringan LKP mengadakan bakti sosial, jumlah masyarakat yang memperoleh manfaat dari usaha penginapan/kosan, jual makanan/minuman, dan jasa lain yang dilakukannya.    

B.   Aspek Kinerja Sumber Daya Manusia (SDM)
SDM yang dimaksudkan adalah Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) yang berada di lingkungan LKP. Keberadaan pendidik maupun tenaga kependidikan sangat menentukan kinerja LKP. Oleh sebab itu, LKP perlu mencatatkan dan mendokumentasikan semua kegiatan yang terkait dengan PTK, terutama dalam hal :
  1. Proses rekrutmen PTK.  LKP yang menyelenggarakan rekrutmen perlu menyediakan data tentang bukti iklan rekrutmen di media cetak/elektronik, dokumen proses rekrutmen/seleksi (berupa berkas lamaran, dokumen tes tulis, wawancara, dan keputusan kelulusan penerimaan), rancangan rekrutmen, dan sebagainya.
  2. Peningkatan Mutu PTK.  LKP perlu menyediakan catatan dan dokumen tentang up-grading PTK ini, yang meliputi rancangan (minimal untuk jangka setahun melalui pendidikan formal dan nonformal), bukti proses, laporan, dan hasil up-grading.
  3. Pencatatan dan pendokumentasian kegiatan penilaian terhadap PTK.  Laporan kinerja pendidik mutlak harus dimiliki oleh LKP. Seberapa tinggi kinerja PTK menjadi salah satu ukuran kinerja LKP. Oleh sebab itu, LKP perlu menyediakan wahana penilaian terhadap kinerja PTK berupa angket atau instrument penilaian lainnya. Juga penting adalah bukti tindak lanjut hasil penilaian yang dilakukan oleh LKP, misalnya berupa surat peringatan/pemberitahuan, surat penghargaan atau foto pemberian penghargaan kepada PTK.
  4. Pencatatan dan pendokumentasian data kompetensi seluruh PTK berupa lembar/papan rekapitulasi PTK-LKP yang mengakomodasi kompetensi-kompetensi yang dimiliki PTK. Sedangkan data/bukti ijazah dan sertifikat kompetensinya didokumentasikan pada tempat tersendiri. LKP perlu juga memiliki catatan tentang berapa PTK yang kompetensinya sesuai dengan jenis keterampilan yang diprogramkan LKP.
  5. .Pencatatan dan pendokumentasian data testimoni tentang kepuasan PTK bekerja di LKP, yang mencakup keleluasaan PTK melakukan inovasi tugasnya, pengembangan/pembinaan karir yang didapat, honor/kompensasi yang diterimanya dari LKP, kejelasan tugas dan tanggungjawabnya, serta kejelasan posisi PTK dalam struktur organisasi LKP.
C.  Aspek Kinerja Pelaksanaan/Operasional
1. Pengelolaan LKP
             LKP perlu dikelola oleh sekelompok orang yang bergabung dalam struktur organisasi pengelola yang mencerminkan kegiatan-kegiatan LKP dan mempunyai pembagian tugas (job description) yang menjelaskan wewenang, tanggung jawab, hak, kewajiban, dan uraian tugasnya. Struktur organisasi tersebut perlu juga disosialisasikan kepada semua pendidik, peserta didik, tenaga kependidikan, dan karyawan LKP dengan cara memampangkannya di tempat yang mudah dilihat oleh semua orang, dituliskan pada selebaran yang dibagikan kepada semua orang, atau cara lain.
2.  Kultur/Budaya Kerja
     Budaya kerja hendaknya dibangun bersama oleh semua unsure LKP, salah satunya melalui penyepakatan visi dan misi lembaga. Susunan kalimat visi dan misi perlu dipahami oleh semua unsure LKP untuk kemudian dijaga dan dilaksanakan. Bukti LKP memiliki budaya kerja adalah adanya kalimat visi dan misi yang terdokumentasikan dan terpampangkan di tempat strategis, uraian misi merupakan penjabaran dari kalimat visi, semua atau sebagian besar unsure LKP memahami visi dan misi tersebut, adanya kegiatan sosialisasi visi dan misi kepada semua unsure LKP.
3.  Rencana Strategis
            LKP perlu menyusun dan mendokumentasikan rencana strategis (untuk jangka 3, 5, atau 10 tahun) yang memuat analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman/Tantangan (KEKEPAN) atau SWOT, target/tujuan, dan strategi serta jadwal pencapaian tujuan sesuai visi dan misi LKP.
4.  Rencana Operasional
            LKP menjabarkan Rencana Strategis ke dalam rencana operasional tahunan dan kalender kerja tahunan LKP. Rencana operasional tahunan minimalmencakup rincian program, penetapan target, dan jadwal pelaksanaan program. Sedangkan kalender kerja adalah rangkaian waktu yang menjadwalkan semua kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pengelola LKP untuk kurun setahun kerja. Baik rencana operasional maupun kalender kerja tahunan perlu dibuat dan didokumentasikan serta dipampangkan di tempat yang strategis.
5.  Program Kursus yang Diselenggarakan
            Pencatatan dan pendokumentasian data program-program kursus yang diselenggarakan mencakup jenis program/keterampilan, lama waktu belajar tiap program, dan surat izin penyelenggaraan yang masih berlaku dari instansi pemerintah/pemerintah daerah.
6.  Kegiatan Pembelajaran
             Pencatatan, pembuatan, dan pendokumentasian kegiatan pembelajaran termasuk perangkatnya mutlak perlu dilakukan oleh LKP secara sungguh-sungguh dan rapi. Data perangkat kegiatanpembelajaran yang harus ada dan terdokumentasikan pada LKP adalah Standar kompetensi lulusan (SKL) tiap program kursus, baik SKL hasil adopsi, adaptasi/pengembangan, atau membuat sendiri; kurikulum; syllabus; Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); kalender pendidikan; dan perangkat penilaian hasil belajar. Semua dokumen perangkat pembelajaran tersebut perlu disahkan/ditandatangani oleh pengelola LKP yang bersangkutan. Sillabus mencakup tujuan belajar, materi pokok, bahan, metode, media, alokasi waktu, dan penilaian. RPP minimal memuat rincian kegiatan pembelajaran (pembukaan, proses KBM, dan penutupan) dan daftar pustaka/referensi/buku sumber.  Penilaian minimal memuat pedoman, instrument, hasil, dan daftar hadir peserta ujian.

7.  Tata tertib
     Pencatatan, pendokumentasian dan pemampangan tata tertib dilakukan oleh LKP dengan memperhatikan cara pensosialisasiannya. Data yang harus ada adalah tata tertib peserta didik, tata tertib pendidik, dan tata tertib tenaga kependidikan. Cara dan jadwal serta foto-foto kegiatan sosialisasi tata tertib perlu juga dicatat dan didokumentasikan.

8.  Sarana Prasarana (Sarpras)
     Sarpras LKP meliputi ruang belajar, ruang operasional (kantor), peralatan pembelajaran, perabot pembelajaran, dan perpustakaan. Data yang perlu dicatat dan didokumentasikan oleh LKP tentang sarpras adalah wujud ruangan/peralatan/perabot dan jadwal pemakaiannya, kelayakan perpustakaan, jumlah dan ketersediaan buku bacaan, jumlah buku yang sesuai dengan program kursus, dan daftar pemakaian/peminjaman buku

9.  Pelaporan
     LKP wajib membuat,mencatatkan, dan mendokumentasikan laporan, baik laporan internal maupun eksternal. Laporan internal misalnya laporan dari instructor kepada ketua pengelola program, ketua pengelola kepada ketua yayasan, bendahara kepada ketua pengelola. Laporan eksternal misalnya pengelola LKP menyerahkan laporan kepada Penilik, Kepala Desa, dan sebagainya.

10.  Pedoman Operasional Baku (POB)
       LKP wajib membuat, mendokumentasikan, dan mensosialisasikan POB kepada semua unsure LKP.  POB yang harus ada pada LKP minimal tentang pengelolaan pendidikan, pengelolaan peserta didik, pengelolaan kepegawaian (SDM), pengelolaan keuangan, pengelolaan pemasaran, pengelolaan penyaluran dan pelayanan alumni, dan pengelolaan sarpras. POB menguraikan urutan pekerjaan, orang/pejabat yang mengerjakan, waktu/lama pengerjaan, dan hasil/produk setiap pekerjaan. POB dapat berbentuk bagan atau deskripsi urutan kegiatan.


D.  Aspek Kinerja Keuangan
     
1.  Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Lembaga (RAPBL)
           Data yang dinilai terkait RAPBL LKP adalah dokumen RAPBL dua tahun terakhir dan tahun berjalan, sistematika RAPBL, pembuat dan pengesah RAPBL, adanya penyesuaian RAPBL setahun sekali. Catatan dan dokumen RAPBL tersebut di atas harus tersedia di LKP.

2.  Laporan Keuangan
Pencatatan dan pendokumentasian prosedur penggunaan uang (mekanisme proses pengajuan pengeluaran, pencatatan keuangan harian/bulanan), pembukuan keuangan (buku pencatatan pemasukan dan pengeluaran, dokumen bukti pemasukan dan pengeluaran uang), dan pelaporan keuangan (laporan harian, laporan periodic) harus tersedia di LKP.  

Rabu, 07 Januari 2015

BAB I

THERMAL OVER LOAD ( TOL )
1. Pengertian
Komponen TOL ini bekerja berdasarkan panas ( temperature ) yang ditimbulkan oleh arus yang mengalir melalui elemen – elemen pemanas bimetal. Dari sifat pelengkungan bimetal akibat panas yang ditimbulkan, bimetal ini akan menggerakkan kontak – kontak mekanis pemutus rangkaian listrik. TOL ini selalu digunakan dalam merangkai rangkaian control dari suatu system terutama berhubungan dengan motor – motor penggerak yang berfasa tunggal ( satu fasa ) ataupun berfasa tiga ( tiga fasa ). TOL ini sangat penting sekali digunakan dalam pengamanan dan perlindungan motor – motor DC atau motor –  motor AC dari ukuran kecil sampai menengah.
Adapun simbol dari kontak - kontak TOL antara lain:

KONTAKTOR
1. PENGERTIN
Kontaktor juga disebut saklar elektromagnetik,
yaitu : “ Saklar yang system operasinya dengan cara kerja sistem elektromagnetik dan merupakan suatu alat yang aman untuk penyambungan dan pemutusan secara terus menerus / kontinyu “.
2. BAGIAN KONTAKTOR

Pada industri modern saat ini control atau pengendali suatu system sangatlah diperlukan untuk
lancarnya proses produksi di suatu industri. Control system ini paling utama yang diperlukan sehingga membuat kita harus faham dan lancar dalam merencanakan rangkaian. Rangkaian control yang umum digunakan pada industri saat ini masih menggunakan rangkaian control yang berawal dari rangkaian manual.
Adapun jenis rangkaian control yang selalu dirancang dalam rangkaian manual adalah menggunakan peralatan – peralatan yang bersifat listrik Rangkaian control atau pengendali harus difahami mulai dari jenis dan dasar komponen yang digunakan.
Dalam desain rangkaian pengendali dasar atau control system selalu menggunakan KONTAKTOR, TIMMER, OVERLOAD, MCB dan lain – lain.
Komponen paling utama digunakan dalam rangkaian control atau pengendali adalah yang
dinamakan KONTAKTOR.

BAB III

PUSH BOTTOM

Push bottom sering disebut dengan tombol, dimana mempunyai fungsi sebagai penghubung dan pemutus arus yang mengalir pada rangkaian kontrol. Penggunaan push bottom ini selalu dibedakan dengan warna pada tombolnya. Umumnya warna merah sebagai push OFF dan warna hijau sebagai push On. Pada push bottom memiliki 2 jenis, yaitu tombol tanpa penguncian dan tombol dengan penguncian.

BAB IV
CONTROL KONVENSIONAL
Pada industri modern saat ini control atau pengendali suatu system sangatlah diperlukan untuk lancarnya proses produksi di suatu industri. Control system ini paling utama yang diperlukan sehingga membuat kita harus faham dan lancar dalam merencanakan rangkaian.Rangkaian control yang umum digunakan pada industri saat ini masih menggunakan rangkaian control yang berawal dari rangkaian manual. Adapun jenis rangkaian control yang selalu dirancang dalam rangkaian manual adalah selalu menggunakan peralatan – peralatan yang bersifat listrik . Rangkaian control atau pengendali harus difahami mulai dari jenis dan dasar komponen yang digunakan. Dalam desain rangkaian pengendali dasar atau control system selalu menggunakan SAKLAR,KONTAKTOR / RELAY, TIMMER, OVERLOAD, MCB dan lain – lain. Pada industri modern saat ini control atau pengendali suatu system sangatlah diperlukan untuk lancarnya proses produksi di suatu industri. Komponen paling utama digunakan dalam rangkaian control atau pengendali adalah yang dinamakan KONTAKTOR atau RELAY.
Pada industri yang lama masih banyak ditemui sistem control dengan menggunakan handle/saklar, seperti contoh pada industri warisan dari bangsa Belanda (umumnya Pabrik Gula, Stasiun/pintu perlintasan kereta api, dll). Control system ini paling utama yang diperlukan sehingga membuat kita harus faham dan lancar dalam merencanakan rangkaian.

Adapun jenis dan macam peralatan kontrol konvensional antara lain :
MENGENAL JENIS-JENIS RANGKAIAN LISTRIK DASAR
Pada umumnya seseorang pemula (junior) merangkai rangkaian untuk suatu sistem tertentu tidak pernah mengetahui jenis rangkaian yang dibuatnya, hanya mengetahui fungsi/tujuan dari rangkaian yang telah dibuatnya. Apalagi jika seseorang akan membuat rangkaian tersebut hanya mengandalkan tujuan akhirnya (hasil) tanpa melihat resiko atau tanpa menproteksi produk tersebut. Suatu contoh kasus rangkaian sederhana instalasi rumah tinggal, seorang perangkai ( INSTALATIR,maksudnya) akan membuat rangkaian lampu pada rumah tersebut sesuai dengan permintaan. Jika hanya mengandalkan hasil yang diminta konsumen, maka akan diabaikannya antara lain : jenis kabel yang dipakai, besar penampang kabel, pengambilan sambungan induk listriknya, dan masih banyak lagi. Hal ini akan berdampak resiko yang akan datang dikemudian hari.
Begitu juga akan terjadi dalam suatu sistem kontrol pada mesin industri yang memiliki fungsi spesifik dan sistem pengoperasiannya tertentu. Hal ini semua sangat tergantung dari cara penentuan sistem desain (rangkaian) tersebut dan pemahaman logika dari prinsip kerja mesin itu.

Adapun jenis - jenis rangkaian listrik yang sering dipakai antara lain :
  1. RANGKAIAN TERBUKA ( OPEN LOOP CIRCUIT )
  2. RANGKAIAN TERTUTUP ( CLOSED LOOP CIRCUIT )
RANGKAIAN TERBUKA
Sistem kontrol loop terbuka adalah merupakan suatu proses dalam suatu sistem yang mana variabel input akan berpengaruh pada output yang dihasilkan. Gambar berikut ini menunjukan blok diagram dari sistem loop terbuka, yang mungkin dapat membantu anda dalam memahami sistem kontrol tersebut. Jika kita lihat dari blok diagram, pada sistem kontrol loop terbuka di sini tidak ada informasi yang diberikan ke peralatan kontrol yang berasal dari peralatan output (variabel yang dikontrol), sehingga tidak dapat diketahui dengan tepat apakah output yang diinginkan sesuai dengan keinginan atau tidak. Terutama apabila terjadi gangguan dari luar yang dapat mempengaruhi output. Oleh karena itu pada sistem ini akan terjadi kesalahan yang cukup besar oleh karena tidak adanya koreksi.

RANGKAIAN TERTUTUP

Kontrol loop tertutup adalah sebuah proses yang mana variabel yang dikontrol secara terus menerus disensor kemudian dibandingkan dengan kuantitas referensi. Adapun variabel yang dikontrol ini dapat berupa hasil pengukuran seperti misalnya pengukuran temperatur, kelembaban, posisi mekanik, kecepatan putaran, dsb.Kemudian hasil pengukuran tadi diumpan balikan ke pembanding ( comparator ). Pembanding ini dapat berupa peralatan mekanik, listrik / elektronik, atau pneumatik. Pada alat pembanding ini antara kuantitas referensi dengan sinyal sensor yang berasal dari variabel yang dikontrol dibandingkan, dan sebagai hasilnya adalah sinyal kesalahan. Sinyal kesalahan ini hasilnya bisa positif atau negatif, secara matematis sinyal kesalahan ini seperti ditunjukan pada persamaan dibawah.


SIMAK , KERJAKAN DAN KUMPULKAN ..!!!!!!!

 AC 1 PK daya Input dan output berapa? nama 1 PK diambil dari  daya apa?

Data konversi untuk Energy ini biasanya ada di buku ASHARE ataupun buku buku
mengenai AC lainnya.
1 kW = 3412 btuh
1 kCal = 3.968 btuh
1 TR = 3.517 kW
1 PK = 9000 btuh

Sedangkan untuk work conversion 1 HP = 0.745 kW

1 PK = 1 Hp = 745 Watts
Outputnya biasanya 9000 Btu/h, karna produk yang dipasaran biasanya nyebutin kalo AC 1 PK itu yang punya beban pendingin 9000 btu/h. Sekedar menambahkan, PK = paar de kraft (bahasa Londo) = Horse Power

Umumnya AC yang dijual di sini dalam satuan PK:
1/2 PK = 5000 BTU
3/4 PK = 7000 BTU
1 PK = 9000 BTU
1-1/2 = 12000 BTU

Kalau untuk penggunaan rumus sederhana = 500 BTU/m²
Jadi untuk kamar tidur 3 x 4 m² = 12 m² x 500 BTU = 6000 BTU, cukup memakai AC 3/4 PK. Walau dalam skala lebih rumit ada perhitungan jumlah jendela kaca, jumlah lampu, jumlah orang dalam ruangan, tapi perhitungan simple seperti di atas.

Bukankah 1 HP itu = 2546.699 BTU/hour
Kok bisa dapat angka 9000 dari mana ya?
Atau berarti 1 HP tidak sama dengan 1 PK?
1 HP (2546.699 BTU/hr) adalah besar daya input compressor,  Sedangkan 9000 BTU/hr adalah besar beban pendinginan yg mampu diserap oleh evaporator dengan menggunakan compressor yg mempunyai daya 1 HP. Jadi yg disebut AC 1PK, adalah daya dari kompresor tersebut, bukan beban pendinginannya.  Cara untuk mengetahui kemampuan beban pendinginan dari sebuah compressor dapat dilihat dari diagram P-h pada siklus kompresi uap standard.

Karena 1 HP yang dimaksud adalah daya kompresor, sedangkan 9000 BTU/hr adalah daya pendinginan. Dengan daya input 2547 BTU/hr, kita bisa mendapatkan efek pendinginan sebesar 9000 BTU/hr. Untuk sistem pendingin, performance sistem ditunjukan dengan Coefficient of Performance (COP) yang besarnya daya pendinginan dibagi daya input kompresor. Untuk air cooled system di Indonesia, nilai COP 3,5 memang sudah tipikal, kalau dengan epavorative cooling (water cooled dengan cooling tower) nilai COP bisa diatas 5.

Walaupun jawabannya benar adanya, perlu di luruskan dulu bahwa sebelum tahun 70'an, para teknisi AC tidak pernah bicara soal PK dalam menentukan kapasitas pendingin suatu AC. Jaman itu kapasitas pendingin yang dikenal adalah Btuh. Sejak unit AC dari Jepang masuk pasaran, maka istilah PK yang sebenarnya Input Power [bukan kapasitas pendinginan], menjadi patokan penjual, mengapa begitu ?
jawabannya karena ada AC yang membutuhkan input listrik 1 PK kapasitas pendinginannya 8000 Btuh tetapi ada juga AC dengan input power yang sama dengan kapasitas 10.000 Btuh, dan tentunya yang belakangan lebih efisien.
Konsumen dikecohkan dengan istilah PK tanpa diingatkan untuk melihat yang benar yaitu kapasitas pendinginannya, lalu dipukul rata saja kalau 1 PK sama dengan 9000 Btuh, padahal bisa 8000 sampai 10.000 Btuh tergantung efisiensinya.
Dalam sepuluh yang akan datang akan ada AC yang 1 PK nya menghasilkan sekitar 20.000 Btuh. Sistimnya sudah dikembangkan belasan tahun yang lalu, sayangnya material magnit yang ada beberapa tahun yang lalu belum stabil pada temperatur kamar
Didunia ada 3 negara yang meneliti yaitu Amerika  dan sudah membuatnya untuk pesawat ruang angkasa untuk Low Temperature Application ] , Jepang dan Swedia / Denmark[?].
Dalam waktu dekat berhasil mendapatkan bahan magnetik yang stabil dan segera melemparnya kepasar karena ukurannya hanya 1/3 dari yang ada sekarang, tidak menggunakan kompresor yang berisik, tidak menggunakan freon dan sangat hemat energi......nama sistimnya "Magnetic Cooling".
Menarik sekali tulisan seorang pakar HVAC yang sudah tidak diragukan lagi akreditasinya,  kalao 1PK itu adalah input energinya. tetapi kenapa diluar banyak produk yang bilang "Ini AC 1 PK.." Tapi Input listriknya berkisar antara 690 - 1100 Watts dengan beban pendinginan yang sama 9000 btu/h.
Biasanya menggunakan bahasa "Cooling Capacity"nya berapa..?? tapi mungkin lebih terkenal dengan sebutan PK .
 Btu/h atau Kilocalories/h atau Watts atau TR(Ton Refrigrasi), kenapa penyebutannya bermacam2 kenapa tidak dijadikan 1 saja ?, TR Misalnya. saat bertemu dengan salah satu konsultan mereka menjawab cooling capacitynya sekian kilocalories/h. jadi berapa yahh..??  makanya perlu dikonversikan lagi keTR, baru ngehhh.. hehe..

Soal :
1.    Hitung berapa kebutuhan AC untuk ruangan bengkel bawah  ( Depan Tengan dan Belakang dan ruang guru ) dengan menggunakan pendekatan 2 rumus yang telah di sampaikan
2.       Hitunglah konversi dari
      1 kW = 3412 btuh,   berapa BTU bila 6 kCal ?
                   1 kCal = 3.968 btuh, berapa BTU bila 5 kW ?
                   1 TR = 3.517 kW , berapa BTU bila 6 TR ?
                   1 PK = 9000 btuh, berapa PK bila 19000 btu

3.    Apa perbedaan AC jenis window, dan AC Splite ? sebutkan bagian dan cara kerja dari masing-masing komponen dari kedua AC tersebut.

Selasa, 25 November 2014

Menentukan BTU Ruangan

Banyak dari kita sering mengabaikan luas ruangan dengan tingkat kebutuhan AC. Karena kita pikir tempatnya kecil, maka cukup hanya 1/2PK, atau sebaliknya, karena tempatnya besar, maka kita kasih 2PK. Kita pikir sudah lebih berhemat membeli satu AC dari pada 2AC Jangan sampai AC yang Anda beli terlalu besar alias pemborosan atau terlalu kecil alias kurang dingin. Ada rumus sederhana yang bisa kita manfaatkan.

Rumusnya:

(L x W x H x I x E) / 60 = kebutuhan BTU
L  =  Panjang Ruang (dalam feet)
W =  Lebar Ruang (dalam feet)
I   =  Nilai 10 jika ruang berinsulasi (berada di lantai bawah, atau berhimpit dengan ruang lain).
        Nilai 18 jika ruang tidak berinsulasi (di lantai atas).
H  =  Tinggi Ruang (dalam feet)
E  =  Nilai 16 jika dinding terpanjang menghadap utara; nilai 17 jika menghadap timur;
        Nilai 18 jika menghadap selatan; dan nilai 20 jika menghadap barat.

1 Meter =  3,28 Feet

Kapasitas AC berdasarkan PK:
AC ½ PK    =  ±  5.000 BTU/h
AC ¾ PK    =  ±  7.000 BTU/h
AC 1 PK     =  ±  9.000 BTU/h
AC 1½ PK  =  ±12.000 BTU/h
AC 2 PK     =  ±18.000 BTU/h

Contoh Perhitungan:
Ruang berukuran 5m x 5m atau (16 kaki x 16 kaki), tinggi ruangan 3m (10 kaki) berinsulasi (berhimpit dg ruangan lain), dinding panjang menghadap ke timur. Kebutuhan BTU = (16 x 16 x 10 x 10 x 17) / 60 = 7.253 BTU alias cukup dengan AC ¾ PK.

Lalu apa sebenarnya BTU itu? kok sales dan service AC sering ngomongin itu ?
BTU adalah singkatan dari British Thermal Unit merupakan satuan energi yang digunakan di Amerika Serikat yang biasanya di definisikan per jam, menjadi satuan BTU/hour. Satuan ini juga masih sering dijumpai di Britania Raya pada sistem pemanas dan pendingin lama. Sekarang ini satuan ini mulai digantikan dengan satuan energi dari unit SI, yaitu Joule (J). 
1 BTU/hour adalah energi yang dibutuhkan untuk memanaskan atau mendinginkan air sebanyak 1 galon air (1 pound – sekitar 454 gram) agar temperaturnya naik atau turun sebesar 1 derajat fahrenheit dalam 1 jam. Hubungannya dengan AC, BTU menyatakan kemampuan mengurangi panas / mendinginkan ruangan dengan luas dan kondisi tertentu selama satu jam.

Orang awam sering menyebut kekuatan AC itu dengan PK, sebenarnya yang diperlukan adalah satuan input dan output : input nya berapa Watt dan outputnya berapa BTU/hour.
Lalu apa yang dimaksud dengan PK ? kok ada 1/2 PK, 3/4 PK, 1 PK, 2 PK dst ?
PK adalah singkatan dari bahasa Belanda “Paardekracht” yang artinya tenaga kuda, atau bahasa Inggrisnya adalah HP (horse power).
1 PK = 735.5 watt / jam = 0.986 hp.
Jika ada AC 1 PK, itu artinya adalah : tenaga listrik yang digunakan kompresor AC adalah sekitar 735,5 watt (ada juga yang bilang 750 watt) dalam 1 jam.  Tapi itu belum ditambah rugi daya, kipas pendingin indoor maupun outdoor. Terkadang AC 1 PK bisa menyedot listrik sekitar 1 KWh bahkan lebih.
Kenapa ruangan ber-AC harus tertutup dan tidak boleh ada yang merokok ?
Agar suhu yang diinginkan tercapai, maka volume udara diruang yg akan didinginkan haruslah tetap.
Sirkulasi udara dalam ruang ber-AC sangatlah lambat, sehingga racun rokok bisa semakin menumpuk.
Kenapa harus memperhitungkan BTU dengan tepat ?
Jika BTU butuh 4000, lalu Anda menggunakan AC 1 PK, maka ruangan akan cepat dingin tapi sekaligus akan terjadi pemborosan listrik. Semakin besar PK, semakin besar kebutuhan listriknya. Demikian pula sebaliknya, jika BTU butuh 9000 tapi Anda menggunakan AC 1/2 PK, maka AC akan lama untuk mencapai suhu yang diinginkan.
Sebelumnya perlu kita ketahui terlebih dahulu beberapa satuan yang digunakan untuk menentukan PK AC
  • BTU = British Thermal Unit per hour.
  • PK = Paard kracht / Horse Power (HP) / daya kuda.
  • feet = kaki = satuan panjang
  • 1 PK = 9000 s/d 10000 BTU/h
  • 1 m2 = 600 BTU/h
  • 3m = 10 kaki
  • 1m = 3,33 kaki
Perlu kita ketahui juga berapa nilai daya pendingin AC berdasarkan PK, karena dipasaran banyak memakai standar PK ini
  • AC 2 PK = +/- 18000 BTU/h
  • AC ½ PK = +/- 12000 BTU/h
  • AC 1 PK = +/- 9000 BTU/h
  • AC ¾ PK= +/- 7000 BTU/h
  • AC ½ PK = +/- 5000 BTU/h

Contoh perhitungan kebutuhan AC
Misalnya kita akan memasang AC pada ruangan yang berukuran lebar 3 m ( 10 kaki), panjangnya 6 m (20 kaki), tinggi ruanya adalah 3m (10 kaki), ruangan tidak berinsulasi, dan dinding yang paling panjang menghadap ke selatan. berapa total kebutuhan AC? mari kita hitung bersama
Rumusnya BTU= (P x T x I x L X E ) / 60
  • BTU = ( 10 feet x 20 feet x 18 x 10 feet x 18)/60 = 10.800 BTU/h, jadi bisa menggunakan AC 1 PK.
Demikian contoh sederhana untuk menentukan PK AC yang cocok untuk dipakai dalam suatu ruangan, silahkan dihitung dengan cermat agar bisa mendapatkan jenis AC yang pas agar ruangan menjadi nyaman dan listriknya tidak boros

Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan saat kita memutuskan akan menggunakan air conditioner adalah bagaimana cara mengetahui PK AC yang sesuai dengan ruangan kita? Hal ini perlu mendapat perhatian karena hubungannya dengan besaran pemakaian listrik yang harus kita bayar tiap bulannya. Unit air conditioner yang terlalu besar dibanding luas ruangan akan membuat pemakaian listrik menjadi boros, begitu juga dengan unit air conditioner yang terlalu kecil. Unit air conditioner yang terlalu kecil dibanding luas ruangan akan membutuhkan waktu yang lama untuk mendinginkan ruangan, hal ini tentu juga membuat tagihan listrik menjadi besar.
Ada 3 faktor yang perlu diperhatikan pada saat menentukan kebutuhan PK AC, yakni daya pendinginan AC (BTU/hr – British Thermal Unit per hour), daya listrik (watt), dan PK compressor AC. Sebagian dari kita mungkin lebih mengenal angka PK (Paard Kracht/Daya Kuda/Horse Power (HP)) pada AC. Sebenarnya PK itu adalah satuan daya pada compressor AC bukan daya pendingin AC. Namun PK lebih dikenal ketimbang BTU/hr di masyarakat awam. Lalu bagaimana cara menghitung dan menyesuaikan daya pendingin air conditioner dengan ruangan Anda? Untuk menyiasatinya, maka kita konversi dulu PK – BTU/hr – luas ruangan (m2).
1 PK = 9.000-10.000 BTU/h
1 m2 = 600 BTU/hr
3 mx = 10 kaki —> 1 m = 3.33 kaki
Daya Pendingin AC berdasarkan PK AC :
BTU/hr
PK
±5.000
± 7.000
± 9.000
±12.000
±18.000
½
¾
1
2
Untuk menghitung kebutuhan BTU digunakan rumus:
(W x H x I x L x E) / 60 = kebutuhan BTU
W
=
panjang ruang (dalam feet)
H
=
tinggi ruang (dalam feet)
I
=
nilai 10 jika ruang berinsulasi (berada di lantai bawah, atau berhimpit dengan ruang

lain). Nilai 18 jika ruang tidak berinsulasi (di lantai atas).
L
=
lebar ruang (dalam feet)
E
=
nilai 16 jika dinding terpanjang menghadap utara; nilai 17 jika menghadap timur;


nilai 18 jika menghadap selatan; dan nilai 20 jika menghadap barat.
Contoh :
Ruang berukuran 3mx6m atau (10 kaki x 20 kaki), tinggi ruangan 3m (10 kaki) tidak berinsulasi, dinding panjang menghadap ke timur. Kebutuhan BTU = (10 x 20 x 18 x 10 x 17) / 60 = 10.200 BTU alias cukup dengan AC 1 PK.
Agar air conditioner memberikan hasil yang maksimal dalam menyediakan udara yang segar berikut beberapa tips yang dapat dilakukan:
  • Sesuaikan ukuran ruangan dengan kapasitas air conditioner.
  • Jangan diletakkan tepat di depan pintu, karena udara akan lebih mudah keluar ke ruangan lain.
  • Jangan letakkan air conditioner terlalu dekat dengan atap. Air conditioner mengambil udara dari atas, maka bila terlalu dekat dengan plafon, ruang yang sempit menyebabkan udara yang masuk tidak maksimal.
  • Cuci filter air conditioner 1 bulan sekali.
Lakukan pencucian evaporator AC 3 bulan sekali.