Jumat, 02 Oktober 2015

Trafo Daya

Transformator Daya adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi untuk menyalurkan tenaga atau daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya. Dalam operasi penyaluran tenaga listrik transformator dapat dikatakan jantung dari transmisi dan distribusi.Dalam kondisi ini suatu transformator diharapkan dapat beroperasi secara maksimal (kalau bias secara terus menerus tanpa berhenri).Mengingat kerja keras dari suatu transformator seperti itu, maka cara pemeliharaan juga dituntut sebaik munkin.Oleh karena itu tranformator harus dipelihara dengan menggunakan system dan peralatan yang benar,baik dan tepat.Untuk itu regu pemeliharaan harus mengetahui bagian-bagian tranformator dan bagian-bagian mana yang perlu diawasi melebihi bagian lainnya.
Berdasarkan tegangan operasinya dapat dibedakan menjadi tranformator 500/150 kV dan 150/70 kV biasa disebut Interbus Transformator (IBT).Transformator 150/20 kV dan 70/20 kV disebut juga trafo distribusi.Titik netral transformator ditanahkan sesuai dengan kebutuhan unutk system pengamanan / proteksi,sebagai contoh transformator 150/70 kV ditanahkan secara langsung di sisi netral 150 kV dan transformator 70/20 kV ditanahkan dengan thanan rendah atau tahanan tinggi atau langsung disisi netral 20 kV nya.
Transformator dapat dibagi menurut fungsi / pemakaian seperti :
§  Transformator Mesin (Pembangkit)
§  Transformator Gardu Induk
§  Transformator Distribusi

Transformator dpat juga dibagi menurut Kapasitas dan Tegangan seperti :
§  Transforamator besar
§  Transforamtor sedang
§  Transforamtor kecil
Konstruksi Bagian-Bagian Transformator
Transformator terdiri dari :
A. Bagian Utama
1.       Inti besi
2.      Kumparan Transformator
3.      Miyak Tasnformator
4.      Bushing
5.      Tagki Konservator
B. Perlatan Bantu
1.       Pendingin
2.      TapChanger
3.      Alat Pernapasan (Dehydration Breather)
4.      Indikator-indikator : Thermometer , permukaan minyak
C. Peralatan Proteksi
1.       Rele Bucholz
2.      Pengaman tekanan lebih (Explosive Membrane ) / Burstin Plate
3.      Rele tekanan lebih (sudden Pressure Relay )
4.      Rele pengaman tangki
5.      Pemadam kebakaran (transformator – transformator besar )
6.      Rele Differensial
7.      Rele arus lebih
8.     Rele hubung tanah
9.      Rele thermis
10.  Arrester
D. Peralatan tambahan untuk Pengaman Transformator
1.       Pemadam kebakaran (transformator – transformator besar )
2.      Rele Differensial
3.      Rele arus lebih
4.      Rele hubung tanah
5.      Rele thermis
6.      Arrester


Drop tegangan

Beban di ujung dan seimbang:
% Drop Voltage = (S*L*(R*Cos θ + X*Sin θ)*100)/(KVLL)^2

Beban di tengah dan di ujung dan seimbang:
% Drop Voltage = (S*L*(R*Cos θ + X*Sin θ)*0.75*100)/(KVLL)^2

Beban merata dan seimbang:
% Drop Voltage = (S*L*(R*Cos θ + X*Sin θ)*0.50*100)/(KVLL)^2

Ket:
S      : daya tersalurkan (MVA)
L      : panjang saluran (km)
R      : resistif (ohm/km)
X     : reaktif (ohm/km)
cos θ : faktor daya

KVLL: tegangan line to line jaringan (KV)

Kamis, 01 Oktober 2015

Permasalahan Kualitas Daya

Permasalahan Power Quality (Kualitas Daya)
1     Power Surges
Power surge merupakan pemaksaan kenaikan pasokan daya yang tiba-tiba kepada suatu beban. Peristiwa ini dirasakan sebagai suatu kenaikan tegangan pada beban. Peristiwa ini bisa terjadi jika peralatan listrik yang menggunakan daya besar tiba-tiba lepas / dilepas dari jaringan. Kejadian ini dirasakan oleh beban yang lain sebagai kenaikan tegangan (pada frekuensi normal) kenaikan tegangan ini dapat mencapai 110% atau lebih dari tegangan normal.
Power Surge dapat mengakibatkan kedip (flicker), matinya peralatan, errors pada komputer, dan kehilangan memori pada computer.
 2.    Voltage Sag
Kebalikan dari Power Surge, peristiwa Power Sag berupa penurunan tegangan. Peristiwa ini bisa disebabkan oleh kesalahan jaringan ataupun masuknya peralatan yang membutuhkan arus awal besar kejaringan.
Gambar 1-4.  Voltage sag

Voltage sag dapat mengakibatkan kegagalan peralatan, computer errorscomputer memory loss.  Fenomena Voltage sag dikenal sebagai fenomena flikerFlicker adalah fenomena distorsi pada amplitudo gelombang tegangan secara berulang.
Kejadian Voltage sag bisa bersumber pada instalasisendiri, yaitu instalasi di pelanggan. Misalnya:
  1. Masuknya beban besar ke jaringan
  2. Cacat pada sambungan penghantar
  3. Terjadinya hubung singkat di tempat lain pada instalasi sendiri.
Voltage sag juga bisa bersumber pada jaringan pemasok energy (PLN), misalnya:
  1. Beroperasinya recloser
  2. Beroperasinya Voltage Regulator
2.1 Masuknya beab besar ke jaringan
Salah satu beban besar yang dapat menyebabkan penurunan tegangan (voltage sag) pada jaringan distribusi adalah motor, karena arus asut (Istart) motor bisa mencapai nilai yang sangat tinggi
Tabel 1-1. Karakteristik motor
Pemanas resistif: Resistivitas logam meningkat dengan meningkatnya temperatur. Pemanas resistif pada waktu start (masih dingin) bisa menarik arus 1,5 kali arus setelah pemanas menjadi panas.
2.2   Cacat pada sambungan penghantar
Sambungan-sambungan penghantar yang longgar dapat mempertinggi impedansi saluran. Peningkatan impedansi ini memperbesar tegangan jatuh pada saluran yang berarti memperbesar terjadinya voltage sag.
2.3.Terjadinya hubung singkat di tempat lain pada instalasi sendiri
Untuk melokalisasi kejadian hubung-singkat digunakan fuse. Arus besar pada waktu terjadi hubung singkat akan melelehkan kawat fuse yang kemudian memutuskan beban. Namun ada selang waktu antara saat hubung singkat terjadi dan saat terputusnya kawatfuse. Dalam selang waktu tersebut terjadi penurunan tegangan.
 2.4.   Beroperasinya recloser
Beroperasinya recloser menyebabkan adanya selang waktu saat  terbuka dan tertutupnya saklar otomatis untuk melokasir gangguang distribusi. Dalam selang waktu tersebut terjadi penurunan tegangan (selama 1 s.d 5 detik).
 2.5.   Beroperasinya Voltage Regulator
Jaringan pemasok energi dilengkapi dengan peralatan yang secara otomatis melakukan penyesuaian tegangan. Peralatan otomatis ini mungkin berupa power factor correction capacitors, mungkin juga tap switching transformers. Apabila terjadi kegagalan operasi peralatan ini, voltage sag akan terjadi.
Voltage sag dapat menyebabkan kegagalan peralatan. Satu hal yang pasti adalah bahwa voltage sag akan mengakibatkan menurunnya pasokan daya karena daya berbanding lurus dengan kuadrat tegangan. Apabila tegangan turun 10%, maka aliran daya hanya tinggal sekitar 80% dari semula. Penurunan daya pada waktu terjadi voltage sag juga dialami oleh beban-beban sensitif. Catu daya beban sensitif (komputer dll) diberikan melalui tegangan searah yang dihasilkan oleh penyearahan tegangan bolak-balik.
3.    Undervoltage
Undervoltage adalah peristiwa penurunan tegangan yang terjadi secara berkepanjanganUndervoltage akan mengakibatkan terjadinya pemanasan yang berlebihan pada motor, bahkan sampai pada kegagalan operasi peralatan.
Penyebab gangguan ini bisa terjadi akibat ada perangkat dengan motor yang sudah terlalu panas (overheating).
 4.    Brownouts
Brownout adalah terjadinya pasokan daya pada tegangan yang lebih rendah dari tegangan normal. Hal ini terjadi misalnya pada waktu pemasok tidak dapat memenuhi permintaan beban dan terpaksa beroperasi pada tegangan yang lebih rendah untuk membatasi daya maksimum. Brownout dapat mengakibatkan data error, data loss, kegagalan peralatan.
 5     Blackouts
Blackouts adalah peristiwa terjadinya tegangan nol (hilang tegangan) yang berlangsung lebih dari dua menit. Sumber kejadian kebanyakan berasal dari sisi jaringan seperti circuit breaker yang trip. Akibat yang dapat ditimbulkan adalah data lossdata corrupt, kerusakan  peralatan
 6.    Transient /  Interuptions
Interupsi pasokan daya merupakan kondisi di mana catu tegangan ataupun arus hilang samasekali untuk sementara waktu. Hal ini biasa terjadi di jaringan sebagai akibat sambaran petir, binatang, cuaca buruk, dan kegagalan operasi peralatan.
Terputusnya pasokan ini bisa berlangsung hanya sesaat bisa pula berkepanjangan:
Tabel 1-2. Lama waktu interupsi pasokan daya
7.    High-voltage Spikes
Voltage spikes merupakan kenaikan tegangan tiba-tiba dalam durasi yang sangat pendek.Spikes sering terjadi karena adanya sambaran petir, dan berakibat buruk pada beban sensitif. Durasi terjadinya spike bisa kurang dari 10 mikrodetik. Sedangkan besar spike di jaringan bisa mencapai 10 kV dan di sisi tegangan rendah bisa mencapai 1000 V. Akibat yang ditimbulkan bis loss of data, kerusakan komponen elektronik. Fenomena dari high-voltage spikes dikenal sebagai Voltage Swell
8.    Frequency Variation
Dalam kejadian ini frekuensi menyimpang dari standar 50 Hz. Hal ini bisa disebabkan oleh emergency genset, generator tak stabil. Akibat yang timbul adalah data lost, kegagalan program, kegagalan peralatan sensitif
 9.    Electrical line Noise
Peristiwa ini mencakup Radio Frequency Interference (RFI) dan Electromagnetic Interference (EMI). Kejadian ini mempengaruhi jaringan system komputer. Sumber penyebabnya antara lain rele, piranti kendali motor, radiasi gelombang mikro, badai petir. Akibat yang timbul berupa data error, data loss.
10.  Voltage Imbalance
Fenomena ketidakseimbangan tegangan terjadi sebagai akibat ketaksamaan magnitude dan/atau sudut fasa pada setiap tegangan. Penyebab ketidakseimbangan tegangan antara lain :
1). Beban satu fasa dipasok antar fasa
2). Trafo fasa tunggal pada JTM sistem 3 fasa,4 kawat
3). Impedansi trafo tidak sama
Ketidakseimbangan tegangan dapat memberikan dampak,antara lain  terjadi panas berlebih yang dapat merusak isolasi dan malfungsi kerja peralatan tenaga dan pengukuran.
 11.  Harmonik
Harmonisa adalah gelombang sinusoidal yang memiliki frekuensi kelipatan dari frekuensi dasar,50 Hz. Gelombang tegangan atau arus yang cacat dapat diuraikan dengan bantuan Deret Fourier menjadi gelombang sinusoidal periodik yang terdiri dari : gelombang searah (DC),gelombang frekuensi dasar 50 Hz, dan gelombang dengan frekuensi kelipatan bulat dari 50 Hz. Distorsi ini terjadi karena adanya beban nonlinier, dimana bentuk gelombang arus beban tidak mengikuti bentuk gelombang tegangan pasokan. Beban semacam ini misalnya penyearah.

Pelepasan Beban

Pengertian  Load Shedding
Load Sheeding merupakan suatu bentuk tindakan pelepasan beban yang terjadi secara otomatis ataupun manual untuk pengamanan operasi dari Unit-unit pembangkit dari kemungkinan terjadinya padam total (Black out). Pelepasan beban secara otomatis dilakukan karena jumlah pasokan daya berkurang, Pelepasan beban secara otomatis dilakukan dengan cara mendeteksi frekuensi atau dengan melihat kondisi sumber daya pembangkit yang beroperasi tidak mencukupi kebutuhannya (kemampuan pembangkitan lebih kecil daripada jumlah beban).
Pembangkitan tenaga listrik pada suatu sitem tenaga seringkali mendapat gangguan yang tidak dapat dihindari, misalnya dengan terjadinya pembebanan secara tiba-tiba karena ada beban melebihi kapasitas dibebankan ke sistem atau dapat juga dengan terjadinya Trip satu unit pembangkit (Generator). ketidakmampuan suatu pembangkit dalam mensuply energi listrik biasanya ditandai dengan penurunan nilai frekuensi listrik.
Apabila terjadi keadaan dimana berkurangnya daya pembangkit hanya berkisar 10% s.d 15% maka penurunan frekuensi akan terjadi secara perlahan karena Governor pembangkit-pembangkit masih sempat bekerja dan daya cadangan panas yang ada (Spinning Reserve) sebesar 10% s.d 15 % dapat digunakan dengan merubahnya menjadi daya listrik. Tetapi apabila berkurang nya jumlah pembangkitan terlampau besar, maka turun nya frekuensi akan semakin cepat dan mencapai harga yang relatif rendah, hanya dalam waktu yang singkat. Governor dan cadangan daya panas yang ada tidak banyak membantu, untuk menjaga suatu sistem dari kegagalan atau kerusakan dan mengganggu operasi produksi karena turunnya frekuensi, maka solusi yang diambil adalah melepaskan sebagian beban,sehingga beban yang dipikul oleh sistem berkurang sehingga diharapkan frekuensi dapat kembali normal sesegera mungkin.
Beban- beban penting ( Essential Load )
Yang dimaksud dengan beban-beban yang penting ialah beban-beban yang memegang peranan dalam proses suatu produksi dimana bila terjadi suatu gangguan dapat menyebabkan berhentinya Operasional pabrik atau merusak /mengurangi mutu dan hasil produksi tersebut. Pada perencanaan pelepasan beban dapat ditentukan terlebih dahulu beban-beban yang akan dilepaskan, dimana dibagi dalam dua kategori yaitu :
       a. Manual Load Shedding
Pelepasan beban secara manual hanya di gunakan dalam keadaan yang tidak begitu      penting atau pada saat control Load Shedding tidak bekerja sebagaimana mestinya (tidak dalam keaadaan normal) . Bila ditinjau dari kekurangan cara ini yaitu harus mempekerjakan tenaga operator yng banyak , dilepaskannya beban yang kadang-kadang melebihi beban yang seharusnya dilepaskan, dan adanya faktor keterlambatan dalam tindakan operator (Human Error).
b.Automatic Load Shedding
Sistem pelepasan beban otomatis seringkali merupakan perpanjangan relay pengaman generator seperti Under frequency Relay ( UFR ). Relay ini digunakan untuk mendeteksi adanya perubahan frekuensi generator dan system sampai kepada batas-batas tertentu. Beban-beban yang akan dilepaskan harus ditentukan dahulu dan akan secara bertahap pada tiap-tiap frekuensi yang telah ditentukan.
Masalah pokok dalam pelepasan beban di sebuah sistem adalah :
1. Besar beban yang akan dilepas pertingkat
2. Menentukan jumlah tingkat pelepasan beban
3. Kelambatan waktu yang direncanakan pada setiap waktu pelepasan
4. Frekuensi dimana setiap tingkat dilepas.
Kriteria yang diinginkan dari setiap program Load Shedding adalah:
Program harus menahan Frekuensi system agar tidak melewati batas minimum tertentu untuk kehilangan pembangkitan terberat yng diperkirakan ( Beban yang dilepas harus cukup).
Program harus sedemikian rupa sehingga tidak ada suatu kondisi kehilangan pembangkitan tertentu yang hanya diikuti pelepasan beban yang tidak terlalu kecil, sehingga memungkinkan frekuensi system terlalu lama pada daerah berbahaya.
Frekuensi pelepasan beban bukan untuk mengatur frekuensi. Maka pelepasan beban sebaiknya hanya dilakukan pada saat dibutuhkan, jadi jika tingkat penurunan frekuensi system masih dalam batas yang diizinkan sebaiknya pengaturan dilakukan melalui AVR (Atomatic Voltage Regulator) yang mempunyai fungsi untuk mengatur output tegangan dari generator atau Governor (alat Bantu turbin yang berfungsi mengontrol putaran turbin agar selalu tetap stabil).

Kapasitor Bank

Pendahuluan
Kapasitor Bank merupakan peralatan listrik yang mempunyai sifat kapasitif yang terdiri sekumpulan beberapa kapasitor yang disambung secara parallel untuk mendapatkan kapasitas kapasitif tertentu. Besaran parameter yang sering dipakai adalah KVAR (Kilovolt ampere reaktif) meskipun pada kapasitor sendiri tercantum besaran kapasitansi yaitu Farad atau microfarad.
Kapasitas kapasitor dari ukuran 5 KVar sampai 60 Kvar. Dari tegangan kerja 230 V sampai 525 Volt. Kapasitor ini mempunyai sifat listrik yang kapasitif (leading). Sehingga mempunyai sifat mengurangimenghilangkan terhadap sifat induktif (leaging).
Fungsi
Fungsi utama dari kapasitor bank yaitu sebagai penyeimbang beban induktif, Seperti yang kita ketahui beban listrik terdiri dari beban reaktif (R), induktif (L) dan capasitif(C). Dimana peralatan listrik yang sering digunakan dan dijumpai memiliki karakteristik induktif, sehingga untuk menyeimbangkan karakteristik beban tersebut perlu digunakan kapasitor yang berperan sebagai beban kapasitif. Berikut ini adalah beberapa kegunaan dari kapasitor bank:
  1. Memeperbaiki Power Factor (faktor daya)
  2. Mensuply daya reaktif sehingga mamaksimalkan penggunaan daya komplek (KVA)
  3. Mengurangi jatuh tegangan (Voltage drop)
  4. Menghindari kelebihan beban transformer
  5. Memberikan tambahan daya tersedia
  6. Menghindari kenaikan arus/suhu pada kabel
  7. Menghemat daya / efesiensi
  8. mengawetkan instalasi & Peralatan Listrik
  9. Kapasitor bank juga mengurangi rugi – rugi lainnya pada instalasi listrik
Perawatan Kapasitor
Kapasitor yang digunakan untuk memperbaiki pf supaya tahan lama tentunya harus dirawat secara teratur. Dalam perawatan itu perhatian harus dilakukan pada tempat yang lembab yang tidak terlindungi dari debu dan kotoran. Sebelum melakukan pemeriksaan pastikan bahwa kapasitor tidak terhubung lagi dengan sumber. Kemudian karena kapasitor ini masih mengandung muatan berarti masih ada arus/tegangan listrik maka kapasitor itu harus dihubung singkatkan supaya muatannya hilang. Adapun jenis pemeriksaan yang harus dilakukan meliputi :
  • Pemeriksaan kebocoran
  • Pemeriksaan kabel dan penyangga kapasitor
  • Pemeriksaan isolator
Komposisi Panel Kapasitor Bank
Sebelum menyusun panel capacitor, ditentukan terlebih dahulu besar kompensasi yang diperlukan dan jumlah step. Perlu dipertimbangkan juga adanya distorsi harmonik pada jaringan. Total Harmonic Distortion atau THD ini menentukan jenis kapasitor bank yang digunakan. Secara global komponen-komponen penyusun panel Capasitor adalah sebagai berikut :
  1. Box Panel/ Enclosure, perhatikan ukuran panel jangan terlalu sempit agar panas yang ditimbulkan kapasitor bank dan komponen lain bisa cepat terbuang melalui ventilasi/ exhaust fan. Jarak antar kapasitor bank sebaiknya 5 cm (temperatur akan mempengaruhi life time).
  2. Main breaker, bisa menggunakan LBS (Load Brake Switch) atau MCCB sesuai dengan kebutuhan (1,3 X In).
  3. Kapasitor Bank, disesuaikan dengan ukuran yang diperlukan dan dipertimbangkan THD jaringan.
  4. Contactor, lebih aman menggunakan contactor khusus capacitor bank tetapi bisa juga dengan menggunakan contactor biasa (size -up).
  5. Protection, menggunakan Fuse atau MCCB/ NFB dengan kapasitas 1,3 X In(capacitor).
  6. PFC (Power Factor Corection), sesuaikan dengan step yang diperlukan. Perhatikan wiring diagram PFC, kadang terdapat perbedaan wiring requirement untuk merk yang berbeda.
  7. Cos phi meter, untuk memonitor faktor daya saat kondisi manual.
  8. CT (Curret transformer) untuk mengukur arus pada panel induk.
  9. Pilot Lamp, untuk indikasi ON, OFF tiap-tiap step dan R,S, T.
  10. Push Button, untuk START – STOP pada kondisi Manual.
  11. Selektor Switch, untuk memilih mode Automatic atau Manual.
  12. Relay Auto – Manual, gunakan yang 4 pole bisa MY4 atau LY4.
  13. Breaker Kontrol, dengan beberapa MCB 1 pole untuk proteksi jalur kontrol.
  14. Relay Back-up, digunakan untuk back-up kontak coil contactor pada ukuran yang besar.
  15. Kabel dan lain lain.

Disconnecting Switch

Disconnecting switch adalah saklar pemutus yang didesain tidak bisa terbuka pada saat arus beban yang melewatinya masih ada.Biasanya disconnecting switch dipasang untuk mengisolasi peralatan–peralatan yang mungkin tersupply daya besar. Disconnecting switch biasanya dilengkapi dengan peringatan visual untuk keamanan para pekerja, dengan kata lain pada saat keadaan saklar terbuka atau tidak ada arus beban yang mengalir maka visual sign akan menyala untuk memberitahukan keadaan aman dan sebaliknya. Disconnecting switch harus benar – benar tertutup untuk mencegah kemungkinan munculnya bunga api antara pisau penghubung dengan klip penjepitnya, yang jika terjadi hal – hal tesebut akan membahayakan operator.
  •       Disconnecting switch, air break switch, and oil switches biasanya digunakan bersama – sama, biasanya tuasnya dioperasiakan bersama sama.
  •    Disconnecting switch juga digunakan untuk mengisolasi peralatan seperti terminal (buses) atau peralatan listrik yang lain, juga untuk memisahkan kelompok-kelompok feeder dengan tujuan maintenance atau pengetesan.
  •       Untuk perbaikan DS dilakukan pengetesan fisik dari kerusakan,membersihkan kontak kontaknya, juga memberikan pelumas pada as dari lengan (pisau) pengubungnya.
  •      Pada maintenance peralatan–peralatan pada gardu induk biasanya antara beban dan sumber daya dari gardu induk diputus oleh Disconnecting switch. Hal ini untuk menjaga keamanan dari para pekerja yang melaksanakan perbaikan atau perawatan, karena difungsikan untuk memisahkan bagian yang bertegangan dan tidak maka DS ini pada sisi yang tidak bertegangan dipasang grounding yang berguna untuk membuang sisa energi (kapasitansi) yang tersimpan pada konduktor, system grounding dan close dari DS ini saling interlocking. Hal ini untuk menghindari short circuit.
  •      Selain itu DS tidak didiesain sebagai pemutus tegangan seperti CB-CB yang terdapat pada panel atau gardu induk, oleh karena itu DS harus dilengkapi dengan pemutus beban, kerja dari DS pun harus setelah CB benar –benar open atau tidak ada daya yang mengalir ke DS, atau dapat dikatakan kerja dari DS dan CB adalah interlocking juga. Pemisah atau DS digunakan untuk menjamin keamanan para pekerja pada saat melakukan pekerjaan yang menyangkut tegangan listrik, dan juga memberikan efisiensi karena harganya yang lebih murah dibandingkan harga CB.

 Ujung dari saluran adalah Sakelar yang menghubungkan Saluran dengan bagian Instalasi yang lain. Sakelar dapat dibuka dan ditutup sesuai keperluan operasi.
Pada Jaringan Tegangan Rendah bisa dipakai Sakelar udara biasa. Tetapi untuk memutus rangkaian listrik dengan tegangan diatas 1000 Volt, timbul kesulitan jika memakai sakelar udara. Oleh karenanya Sakelar Tegangan Tinggi (diatas 100 Volt) memerlukan teknik khusus dalam memutus rangkaian listrik. Kemampuan memutus arus listrikdengan jumlah arus listrik dengan jumlah Ampere tertentu pada tegangan operasi tertentu merupakan salah satu spesifikasi teknik yang harus dipenuhi sebuah Sakelar. Mengacu kepada ini, dalam instalasi tegangan tinggi ada tiga macam Sakelar, yaitu :
a.       Pemutus Tenaga (PMT)
      Pemutus Tenaga adalah Sakelar yang mampu memutus arus gangguan hubung singkat yang terjadi. Pemutus tenaga dihubungkan pada relay pengaman yang akan memberikan perintah membuka rangkaian listrik apabila terjadi gangguan hubung singkat.
b.      Pemutus Beban (PMB)
Pemutus Beban adalah sakelar yang hanya mampu memutus arus beban. Operasinya dilakukan secara manual, diperlukan untuk manuver operasi.
c.       Pemisah (PMS)
Pemisah adalah sakelar yang hanya boleh dioperasikan tanpa ada arus. Pemisah harus secara visuil terlihat apakah pisau-pisaunya membuka atau menutup.
PMS (Pemisah) dipasang didepan dan dibelakang PMT (Pemutus Tenaga).
Setelah PMT dibuka, tidak ada arus lagi, baru PMS boleh dibuka. Jangan sekali-kali membuka PMS yang masih berarus yaitu sebelum PMT dibuka, karena hal ini akan menimbulkan ledakan dan menimbulkan kecelakaan terhadap mereka yang ada didekat PMS tersebut. Apabila instalasi akan disentuh, maka PMS yang bersangkutan dengan instalasi tersebut harus dibuka setelah terlebih dahulu PMT-nya dibuka. PMS perlu dibuka untik bisa dilihat bahwa instalasi yang akan disentuh telah bebas tegangan.

       Instalasi mempunyai PMS untuk mentanahkan instalasi. Sebelum disentuh PMS tanah harus dimasukkan agar potensial yang akan disentuh sama potensial tanah.

PENSAKLARAN

a. SSO (Sakelar Seksi Otomatis)
        Sakelar seksi otomatis (SSO) disebut juga sectionalizer merupakan alat yang berfungsi  sebagai pemutus secara otomatis untuk membebaskan seksi-seksi yang terganggu dari suatu system distribusi atau dengan kata lain dapat melokalisir gangguan pada seksi yang terganggu sehingga seksi yang sehat tetap mendapatkan catu daya listrik. AVS atau SSO di pasang di PLN distribusi Jawa Timur merupakan AVS dengan prinsip deteksi tegangan. AVS juga dilengkapi dengan pengaturan waktu (Timer) dengan seting  t-1 = 0,5 detik, t-2  = 5 detik dan t-3 = 10 detik. AVS terdiri dari dari dua jenis yaitu AVS tree type dan AVS loop type.
Pemasangan AVS Pada Jaringan Menggunakan Sistem Radial Murni :
Cara Kerja :
Titik B kita anggap terjadi gangguan, sehingga PMT trip dan seksi A, seksi B, seksi C, seksi D tidak bertegangan. AVS 1, AVS 2, AVS 3 akan membuka setelah selang waktu t-3 = 0,5 detik. PBO – 1 bekerja dan setelah mencapai waktu 60 detik, PMT Penyulang  masuk kembali (Reclose 1), kemudian selang waktu t-1 = 10 detik setelah AVS 1 merasakan tegangan maka AVS 1 akan menutup. Karena di seksi B masih ada gangguan maka PMT Penyulang trip lagi. AVS 1 & AVS 2 langsung mengunci karena waktu merasakan tegangan cepat sekali (lebih kecil dari waktu t-2 = 5 detik). PBO – 2 bekerja dan setelah mencapai waktu 180 detik ,  PMT Penyulang masuk kembali (Reclose 2) dan seksi A bertegangan. Seksi B, seksi C dan seksi D tidak bertegangan / padam. Aliran daya dari Penyulang hanya pada seksi A saja.
Selain dipasang AVS yang dioperasikan secara otomatis  juga banyak digunakan LBS yang dioperasikan secara manual dan mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai alat pemutus yang dapat   melokalisir seksi jaringan yang terganggu sehingga tidak mempengaruhi seksi  jaringan yang lain.
b. LBS (Load Break Switch)
Load Break Switch merupakan peralatan listrik yang berfungsi sebagai saklar, dimana alat ini bertugas sebagai penyambung dan pemutus aliran listrik. LBS dapat bekarja pada saat keadaan berbeban. Berdasarkan jenis-jenis
Gambar Load Break Switch
 
d. Recloser

Recloser ( Penutup Balik Otomatis / PBO ) pada dasarnya adalah pemutus tenaga yang dilengkapi dengan peralatan kontrol. Peralatan ini dapat merasakan arus gangguan dan memerintahkan operasi buka tutup kepada pemutus tenaga. Untuk jaringan yang panjang (>20 km) perlu dipasang 2 atau lebih PBO pada jarak tertentu dengan koordinasi yang baik, agar gangguan yang terjadi dapat segera dibebaskan.